Press "Enter" to skip to content

122 Spesies Burung Terancam Punah, Burung Maleo Hadapi Ancaman Serius

0

Burungnya.com – Sampai saat ini, sedikitnya terdapat 1.594 spesies burung di Indonesia. Dari ribuan spesies burung tersebut, 300 spesies di antaranya berstatus endemik atau hanya ditemukan di kawasan tertentu.

Jadi, bisa dikatakan bahwa Indonesia mempunyai kekayaan fauna yang luar biasa. Namun sayang, dari ribuan spesies burung tadi, ada sekitar 122 spesies yang menghadapi ancaman kepunahan.

Salah satu jenis burung yang terancam punah adalah burung Maleo (Macrocephalon maleo). Hampir semua lokasi tempat tinggalnya menghadapi ancaman.

Baca juga: 20 Jenis Burung Langka di Indonesia Lengkap dengan Gambar

Jumlah habitat burung Maleo yang terancam punah

Di Indonesia sendiri, habitat burung Maleo yang sudah diketahui sekitar 132 lokasi. Nah, dari 132 lokasi penelusuran burung Maleo di Indonesia, hanya 5 tempat yang belum menghadapi ancaman.

Sisanya, 42 lokasi telah ditinggalkan, 42 sangat terancam, 12 tidak diketahui lagi, dan 31 statusnya terancam.

Miris sekali bukan? Ya, bahkan penyebab yang membuat burung Maleo terancam punah justru lebih miris lagi.

Perlu Anda ketahui, ancaman di alam terhadap burung Maleo ternyata tidak hanya berasal dari predator tetapi juga manusia.

Baca juga: Akibat Penangkapan Liar, Burung Kacer di Aceh Jadi Langka

Penyebab burung Maleo terancam punah

Seperti yang disadur dari Kompas.com (25/8/2017), yang mengancam habitat burung Maleo di antaranya pencurian telur burung Maleo oleh masyarakat, pemangsaan telur dan anakan burung Maleo oleh predator seperti biawak dan ular, kerusakan habitat akibat perambahan, illegal logging, banjir atau kebakaran hutan dan lahan, serta perburuan burung Maleo dewasa.

Baca juga:  20 Jenis Burung Langka di Indonesia Lengkap dengan Gambar

Sebagai salah satu dari 25 satwa langka yang menjadi prioritas konservasi, burung Maleo memiliki ruang hidup yang sempit. Habitat hidupnya hanya di kawasan tertentu dan sangat peka terhadap kehadiran perubahan.

“Salah satu yang terancam adalah burung Maleo (Macrocephalon maleo), habitat dan populasinya sudah semakin terancam,” kata Puja Utama, Kepala Sub Direktorat Pengawetan Jenis, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam, Kamis (24/8/2017), seperti yang dikutip dari NationalGeographic.co.id.

Tak hanya itu, kebiasaan burung Maleo yang hanya meletakkan telurnya begitu saja tanpa mengeraminya membuat dia sulit mendapatkan keturunan.

Burung Maleo memang tidak seperti burung lainnya. Burung langka ini hanya bertelur dan meletakkannya dalam kawasan hutan yang memiliki panas bumi atau di pasir pantai.

Telur-telur ini kemudian ditinggalkan dan menetas dengan bantuan panas bumi atau panas sinar matahari di pantai.

Baca juga: Kopi Ini Terbuat dari Kotoran Burung Langka, Harganya Fantastis

Status burung Maleo

Burung endemik langka dari Pulau Sulawesi dan Buton ini masuk dalam daftar Endangered oleh IUCN Red List dan terdaftar dalam CITES Appendik 1 dan jenis dilindungi oleh PP No 7/1999.

Tentu, burung ini harus mendapat perhatian yang serius. Jangan sampai burung Maleo benar-benar punah dalam beberapa tahun ke depan. Kasihan anak cucu kita yang tidak bisa menikmati keindahan burung Maleo sebagai salah satu satwa endemik asli Indonesia.

Baca juga:  Mengapa Burungnya Tidak Mau Berkicau?

Pelestarian burung Maleo dengan cara konservasi

Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, burung Maleo harus dilestarikan melalui konservasi.

Puja menegaskan, konservasi sumber daya alam di Indonesia merupakan salah satu bagian inti pembangunan nasional yang bertujuan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.

“Salah satu indikator keberhasilan konservasi adalah peningkatan populasi 25 satwa terancam punah prioritas sesuai dengan IUCN Redlist of Threatened Species sebesar 10 persen. Burung Maleo adalah salah satu prioritas peningkatan populasi,” lanjut Puja Utama.

Ke depannya, konservasi burung Maleo akan segera ditingkatkan. Namun, untuk saat ini konservasi tersebut masih dalam tahap pengembangan terutama pada Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) serta Program Enhanching the Protected Area System in Sulawesi for Biodiversity Conservation (E-PASS).

Selain itu, konservasi burung Maleo ini juga menggandeng sejumlah pihak luar, salah satunya Wildlife Conservation Society (WCS). Untuk hubungan kerjasama ini, kegiatan konservasinya nanti tentang pengelolaan ladang peneluran dan pembuatan bangunan penetasan telur (Hatchery).

Jika pihak luar saja sampai memberikan bantuan seperti itu, kita sebagai warga Indonesia harus bisa menjaga burung-burung asli Indonesia dan burung yang terancam punah.

Sebisa mungkin, tinggalkan kegiatan perburuan burung-burung langka agar mereka tetap ada dan bisa dinikmati anak cucu kita.

Jika artikel ini bermanfaat, jangan lupa like dan share. Terima kasih.

Comment here