Press "Enter" to skip to content

Hukum Memelihara Burung Kicau Dalam Pandangan Islam

0

Burungnya.com – Semua yang ada di Bumi ini mempunyai aturan hukum yang harus dipatuhi. Begitu juga dengan hukum islam. Bahkan, islam memiliki hukum tentang memelihara burung kicau. Kira-kira, memelihara burung kicau hukumnya apa ya? Apakah wajib, sunnah, mubah, makruh, atau justru haram?

Berikut ulasan tentang hukum memelihara burung kicau dalam padangan islam yang dijelaskan oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Beliau adalah Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh.

Seperti yang disadur dari Konsultasisyariah, ternyata terdapat hadis yang membolehkan dan ada pula yang tidak membolehkan memelihara burung. Hadis yang membolehkan berasal dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau memiliki adik laki-laki yang masih kanak-kanak, bernama Abu Umair. Si Adik memiliki burung kecil paruhnya merah, bernama Nughair.

Anas menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ – قَالَ: أَحْسِبُهُ – فَطِيمًا، وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: «يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ» نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Saya memiliki seorang adik lelaki, namanya Abu Umair. Usianya mendekati usia baru disapih. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, beliau memanggil, ‘Wahai Abu Umair, ada apa dengan Nughair?’ Nughair adalah burung yang digunakan mainan Abu Umair. (HR. Bukhari 6203, Muslim 2150, dan yang lainnya).

Baca juga:  4 Burung Murai Hijau Jawa Terlangka di Dunia Lahir di Inggris

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan beberapa pelajaran yang intinya memperbolehkan memelihara burung.

جواز إمساك الطير في القفص ونحوه

“(Hadis ini dalil) bolehnya memelihara burung dalam sangkar atau semacamnya.” (Fathul Bari, 10/584).

As-Syarwani (w. 1301 H) – ulama madzhab Syafiiyah – mengatakan,

وسئل القفال عن حبس الطيور في أقفاص لسماع أصواتها وغير ذلك فأجاب بالجواز إذا تعهدها مالكُها بما تحتاج إليه لأنها كالبهيمة تُربط

”Al-Qaffal ditanya tentang hukum memelihara burung dalam sangkar, untuk didengarkan suaranya atau semacamnya. Beliau menjawab, itu dibolehkan selama pemiliknya memperhatikan kebutuhan burung itu, karena hukumnya sama dengan binatang ternak yang diikat.” (Hasyiyah as-Syarwani, 9/210).

Hal senada juga pernah disampaikan oleh Imam Ibnu Baz.

ليس في ذلك حرج إذا لم تُظلم وأحسن إليها في طعامها وشرابها سواء كانت ببغاء أو حماماً أو دجاجاً أو غير ذلك بشرط الإحسان إليها وعدم ظلمها ، وسواء كانت في حوض أو أقفاص أو أحواض ماء كالسمك

“Tidak masalah memelihara burung, selama tidak mendzaliminya dan disikapi dengan baik dalam memberi makanan atau minuman. Baik burung Kakak Tua, burung Dara, Ayam atau binatang peliharaan lainnya, dengan syarat diperlakukan dengan baik dan tidak menzhaliminya. Baik binatang itu dipelihara di dalam kolam, sangkar, atau aquarium seperti ikan misalnya. Wallahu a’lam.” Fatâwa Islamiyyah (4/596).

Di sisi lain, ada beberapa adab yang tidak memperbolehkan memelihara burung.

  • Pemborosan
Baca juga:  Ini Jawaban Ustadz Ammi Nur Baits tentang Hukum Jual Beli Burung Berkicau dalam Islam

Islam melarang manusia melakukan pemborosan dalam urusan apapun, termasuk pemborosan dalam urusan hobi memelihara burung.

  • Menghabiskan banyak waktu untuk burung

Jangan menghabiskan waktu hanya untuk memelihara burung dan melalaikan aktivitas yang lain. Sebagai contoh, cerita dari Nabi Sulaiman yang sangat mencintai kuda peliharaannya.

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ . إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ . فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ . رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحًا بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ

(Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Dia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.” “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku,” lalu ia potong kaki dan leher kuda itu (disembelih). (QS. Shad: 30 – 33).

Jadi, kesimpulannya, Anda diperbolehkan memelihara burung, selama Anda merawatnya dengan baik atau dalam islam hukumnya adalah mubah. Namun, memelihara burung menjadi tidak boleh, ketika Anda melakukan pemborosan dan menghabiskan banyak waktu dengan burung peliharaan Anda.

Comment here