Sungai Pemali Brebes (singosarifm.com)

Suami Lebih Sayang Burung, Istri dan Anak Bunuh Diri di Sungai Pemali Brebes

Burungnya.com – Seorang istri yang bernama Tri Ayu Retno Sari (21) dan anaknya Ayudika Assyira (3) diduga bunuh diri dengan cara terjun ke sungai Pemali, Brebes, Jawa Tengah. Alasannya, sungguh tidak masuk akal, yakni Ayu merasa sudah tak disayang lagi oleh suaminya. Suami yang diketahui bernama Andik Siswanto ini dianggap lebih mementingkan burung peliharaannya ketimbang istri dan anaknya.

Saat ini, tim SAR dan pihak kepolisian wilayah Brebes sudah menemukan jenasah anaknya yang masih balita berjarak 10 Km dari lokasi pertama pencarian. Mereka juga masih berusaha untuk menemukan istri Andik di sepanjang sungai Pemali sambil menyelidiki motif bunuh diri yang sedikit janggal ini.

Intinya, mereka belum yakin apakah Ayu dan anaknya bunuh diri atau ada faktor lain yang menyebabkan mereka jatuh ke sungai Pemali.

Bukti sementara menunjukkan istri dan anak bunuh diri

Namun, laporan dari Kapolsek Wanasari, AKP Wagito menunjukkan titik terang. Menurutnya, korban yang terjun ke sungai Pemali ini diduga memang melakukan bunuh diri. Hal ini diketahui dari jejak dan sandal korban.

“Dari bukti dan petunjuk yang ada, semuanya mengarah korban bunuh diri. Hal itu diperkuat dengan jejak dan sandal korban di lokasi awal yang diduga tempat menceburnya korban,” kata Wagito, seperti yang dikutip dari Tribunnews (9/2/2017)

Sementara, untuk penyebab bunuh diri, pihakya masih akan mendalami lebih lanjut. Dari data yang sudah terkumpul, sang istri sebelumnya memang sedang bertengkar dengan suaminya.

Dugaan sang istri nekat bunuh diri karena burung peliharaan suami

Pertengkaran rumah tangga ini dipicu oleh burung peliharaan Andik (Murai Batu) yang harganya mahal. Sang istri juga kecewa dengan hobi suami yang gemar memelihara burung kicau ternyata malah membuatnya melupakan keluarga dan anak.

Sang istri pergi dari rumah sambil membawa barang berharga

Kesal dengan kelakuan suami, sang istri nekat pergi dari rumah bersama anaknya menggunakan sepeda motor. Saat pergi, sang istri membawa beberapa barang berharga, di antaranya perhiasan emas seberat 30 gram dan uang tunai Rp 3 juta dari gaji karyawannya. Selain itu, dia juga membawa surat-surat tagihan dari usaha ayam potong yang dikelola bersama suaminya, sebagaimana yang disampaikan oleh Canal Brebes.

Sebelumnya, ada tukang becak yang melihat Ayu bersama anaknya mondar-mandir di bibir sungai Pemali. Kata sang tukang becak, dia sempat mengusir mereka agar menjauh dari bibir sungai yang terkenal angker tersebut. Namun, tak lama setelah itu, keduanya sudah tak terlihat di bibir sungai. Tukang becak tadi mengajak tukang becak lainnya mencari Ayu dan anaknya.

Setelah dicari cukup lama, mereka hanya menemukan sepasang sandal dan jejak kaki Ayu. Sepeda motor yang dipakai Ayu juga ditinggal begitu saja di pinggir jalan yang tak jauh dari bibir sungai.

Pertanyaannya sekarang, di mana Ayu berada? Mengapa hanya anaknya yang ditemukan, padahal pencarian sudah berlangsung sejak enam hari yang lalu. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan sungai Pemali yang dikenal angker?

Misteri sungai Pemali yang dikenal sangat angker

Beberapa tahun yang lalu, ‘Mister Tukul Jalan-Jalan’ meliput berita sungai Pemali di Brebes. Sungai tersebut sangat angker karena setiap tahun sering meminta tumbal.

Konon katanya, kalau sungai Pemali mau meminta tumbal, maka akan terdengar suara letusan dari dalam sungai dan biasanya akan ada seorang warga yang bermimpi tentang orang di pinggir sungai yang meminta ayam Temanggang.

Wijan, karyawan dinas pariwisata di sana juga menjelaskan bahwa hampir setiap tahun sungai Pemali merenggut minimal satu korban. Mitosnya, dulu pendiri desa di sana yang bernama Ki Gede Muniba pernah bertarung dengan makhluk siluman di sungai Pemali.

Saat itu, Ki Gede Muniba yang keluar sebagai pemenang. Keduanya kemudian membuat kesepakatan, yang intinya makhluk siluman tadi boleh mengambil korban asalkan bukan dari desanya.

Dari hasil kesepakatan tersebut, sampai saat ini korban terus berjatuhan tapi bukan dari desa yang didirikan Ki Gede Muniba, melainkan korban dari desa sebelah yang berbatasan dengan sungai Pemali. Tak hanya itu, warga dari desa lain yang menikah dengan desa tersebut atau orang lain di luar desa tersebut juga sering menjadi korban di sungai Pemali.

Terlepas dari benar tidaknya mitos keangkeran sungai Pemali, yang terpenting kita sebagai kicau mania tidak boleh melupakan keluarga. Semoga kejadian ini bisa diambil hikmahnya.

Baca juga: 10 Cara Membuat Istri Menyukai Burung Peliharaan Suami

Komentar