Bisnis Sapi Gagal, Ternak Murai Batu Jadi Sukses Rp 100 Juta Sebulan

Bisnis Sapi Gagal, Ternak Murai Batu Jadi Sukses Rp 100 Juta Sebulan

Burungnya.com – Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa kesuksesan hanya milik segelintir orang. Namun, dengan usaha keras dan tekad yang kuat, sukses dapat diraih seperti kisah Mulyono dalam beternak Murai Batu. Dulu pria ini jualan sapi, tapi gagal dan beralih ternak burung Murai Batu, dan sekarang malah sukses.

Meski begitu, pria 38 tahun asal Lampung ini tidak langsung mendulang kesuksesan. Berbagai rintangan harus dilaluinya sebelum menjadi peternak Murai Batu sukses dan terkenal di kalangan kicau mania. 

Usaha budidaya burung Murai Batu dimulai dari bawah dan dilakukan di rumahnya kawasan Pekapuran, Sukatani, Tapos, Kota Depok.

Mulyono dan Murai Batu Seharga Rp 230 juta (trubus.id)
Mulyono dan Murai Batu Seharga Rp 230 juta (trubus.id)

Bisnis Jual Beli Sapi Gagal

Kesuksesan Mulyono diawali dengan menelan pil pahit. Kisah ini bermula saat dia gagal menjalani bisnis jual beli sapi di Lampung tahun 2007. Parahnya lagi, ayah dari 4 anak ini mengaku, akibat kegagalannya dalam menjalankan bisnis sapi, dia sampai masuk penjara selama 1 tahun.

“Ya, sempat masuk penjara 1 tahun, karena duit sapi dibawa orang dan nggak bisa ganti,” kata Mulyono, seperti yang disadur dari Trubus.id (31/8/2018).

Ditawari Murai Batu Juara

Setelah keluar dari penjara, Mulyono tidak tinggal diam karena harus menghidupi keluarga. Akhirnya, dia memutuskan untuk merantau ke ibukota. Tepatnya tahun 2007, Mulyono jualan bumbu renceng di kawasan Depok.

“Tahun 2007, saya ke Depok. Jualan bumbu renceng keliling kampung. Anak masih 2. Semua saya bawa,” terangnya lagi.

Sambil jualan bumbu renceng ke kampung-kampung, Mulyono juga masih aktif memelihara berbagai jenis burung kicau. Sampai suatu hari, dia ditawari Murai Batu lomba yang sering juara.

Kemudian burung tersebut dibeli dengan uang muka Rp 4 juta. Sebab, saat itu Mulyono hanya mempunyai uang tabungan segitu. Lalu, dibuatlah surat perjanjian pembelian Murai Batu juara dengan cara dicicil.

“Dulu tuh nggak ada niat mau ternak. Awalnya beli burung juara, ditawari Rp 15 juta. Tapi enggak punya duit. Ada tabungan cuma Rp 4 juta. Sama yang punya dikasih, bikin surat perjanjian kalau sisanya dicicil,” kenang Mulyono.

Niatnya Murai Batu tadi akan dilombakan lagi agar nilai jualnya semakin tinggi. Semua sudah diperhitungkan, sampai Mulyono berani menggunakan uang tabungan dan mencicil burung tersebut. Sayangnya, di bulan pertama Mulyono tidak mampu membayar uang cicilan.

Dia hanya memiliki uang Rp 2 juta. Sama pemiliknya, uang mau diambil dan burung juga dibawa. Mulyono hanya bisa pasrah karena memang tidak ada uang untuk dibayarkan. Walau begitu, akhirnya pemilik burung percaya dan memperbolehkan Mulyono membawa burung lagi.

“Ya saya pasrah. Saya bilang cuma punya uang Rp 2 juta. Mau diambil terus burungnya dibawa lagi ya saya pasrah. Tapi untungnya yang punya percaya. Burung tetap boleh saya bawa,” katanya.

Burung Murai Batu Rusak

Diberi kesempatan kedua, Mulyono tidak mau mengecewakan pemilik burung. Dia semakin giat menjual bumbu renceng keliling kampung. Setiap Subuh, dia sudah berangkat untuk menjajakan dagangannya. Hasil usaha tersebut, beberapa bulan kemudian hutangnya lunas.

Meski demikian, nasib buruk kembali menimpanya. Setelah lunas, burung Murai Batu kesayangan yang telah menjuarai banyak lomba, rusak karena diserang kutu. Bulu burung rusak parah, rontok, dan diobati tidak sembuh.

“Wuih, itu bulunya rusak parah dan rontok. Saya cuma bisa pasrah deh. Diobati enggak sembuh-sembuh,” terangnya.

Ternak Murai Batu

Mulyono hanya bisa pasrah, tapi tiba-tiba muncul ide untuk menangkar Murai Batu. Uang seadanya yang ia miliki dibelikan Murai Batu betina harga Rp 750 ribu. Kemudian ruang belakang di kontrakan yang semula WC diubah menjadi kandang ternak Murai.

Kisah Sukses Ternak Murai Batu (trubus.id)
Kisah Sukses Ternak Murai Batu (trubus.id)

Selanjutnya kedua burung dimasukkan kandang sederhana tersebut, lalu ditutup rapat. Tak disangka, burung yang dibiarkan berdua tanpa perawatan khusus ini justru berhasil menetaskan beberapa telur.

“Saya enggak nyangka tahu-tahu kedengeran suara ciet-ciet, kayak anakan Murai. Duh saya seneng banget waktu itu. Soalnya nggak ngarepin, wong cuma dikasih jangkrik tok,” ujar Mulyono dengan logat jawanya yang kental.

Usaha Penangkaran Murai Batu Sukses

Anakan Murai Batu Putra Aceh sangat berkualitas sehingga diminati kicau mania. Kemudian Mulyono mulai menata usahanya. Setelah 12 kali produksi, ia sudah mempunyai puluhan pasang burung Murai Batu. 

Loading...

“Anakan Putra Aceh banyak yang minati. Karena bagus kayak jantannya,” terang Mulyono lagi.

Usaha ternak Murai Batu yang dirintis Mulyono bisa membuat keluarga bahagia. Mulyono sedikitnya sudah mempunyai 25 pasang indukan Murai Batu yang tersebar di beberapa lokasi.

Mulyono Ternak Murai Batu Sukses (trubus.id)
Mulyono Ternak Murai Batu Sukses (trubus.id)

Harga Murai Batu

Setiap bulan, minimal dia bisa mendapat 20 ekor anakan Murai Batu yang dijual mulai harga Rp 2,5 juta – Rp 10 juta per ekor untuk anakan usia 2 bulan. Sedangkan untuk Murai Batu siap lomba, biasanya dijual seharga Rp 20 juta – Rp 30 juta.

Bahkan, Murai Batu lomba hasil penangkarannya ada yang mencapai harga Rp 230 juta, yakni Murai Batu Black Forest. Di samping itu, dia juga menjual indukan-indukan produksi seharga Rp 10 juta – Rp 30 juta per pasang.

Pelanggan Murai Batu dari Mulyono BF kebanyakan berasal dari wilayah Jabodetabek hingga Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan luar pulau Jawa. 

Bantu Tetangga Membuka Lapangan Kerja

Sukses usaha ternak burung, Mulyono tergerak membantu sesama terutama tetangga. Mulyono memberdayakan warga sekitar rumahnya sebagai karyawan dan menyewa rumah mereka untuk menyimpan burung lomba. Sebagian rumah warga juga dijadikan penangkaran Murai Batu, kemudian hasilnya dibagi dengan pemilik rumah.

Mulyono dan Karyawan (trubus.id)
Mulyono dan Karyawan (trubus.id)

“Kalau yang ngontrak buat burung lomba ditaruh di rumah-rumah tetangga biayanya Rp 500 ribu sebulan. Itu cuma numpang menaruh kandang sama burung aja. Selebihnya kita yang ngurusin mulai dari makan sama bersihin kandangnya,” ujar Mulyono.

Tidak hanya tetangga sekitar, Mulyono juga memberdayakan pencari kroto di sekitar tempat tinggalnya, salah satunya adalah Kong Somad. Pria 82 tahun ini setiap hari mencari kroto ke kampung-kampung, lalu diserahkan ke Mulyono untuk pakan burung.

“Ya, kita berdayakan warga sekitar. Sekalian sedekah. Biar berkah,” ujar Mulyono.

Penghasilan dari Ternak Murai Batu

Setiap bulan, Mulyono mendapat penghasilan rata-rata sekitar Rp 100 juta. Namun, untuk biaya operasional, seperti beli pakan dan bayar gaji karyawan, Mulyono menghabiskan uang hampir Rp 40 juta per bulan.

Demikian kisah sukses peternak burung Murai Batu yang merintis bisnisnya mulai dari nol. Awal usaha memang jatuh bangun, tetapi berkat dukungan istri dan kerja keras, akhirnya Mulyono mampu meraih kesuksesan. Tak ada yang instan dalam bekerja, bahkan Mulyono sampai masuk penjara selama 1 tahun.

Baca juga:

Walau begitu, perjalanan panjang tersebut dapat dijadikan pelajaran anak cucunya bahwa untuk mendapatkan kesuksesan dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan usaha yang keras.

Jangan lupa sedekah atau membantu sesama seperti apa yang dilakukan oleh Mulyono. Dia membantu warga sekitar dengan memberdayakan beberapa tetangga sebagai karyawan hingga partner bisnis. Hasilnya, selain dapat dirasakan sendiri, orang sekitar juga kecipratan bahagia.

Jika artikel Burungnya.com bermanfaat, jangan lupa bagikan ke teman-teman yang lain dan follow Instagram @burungnyadotcom. Terima kasih.

 

Loading...

Berikan komentar

error: Dilarang Copy Paste!!